pada tanggal
perjalanan. travelling
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
Lawang Sakepeng |
Tak mudah menemui
pujaan hati meski janji telah terucap. Buktikan dulu dengan memutus tebu.
Demikian adat lawang sakepeng menjelang pernikahan adat dayak Ngaju.
Tengah hari dan
sedikit mendung waktu saya tiba di gerbang sebuah komplek perumahan. Berhenti
sejenak untuk memastikan peta yang diberikan. Sudah benar. Tinggal masuk ke
dalam lalu belok kanan dan kiri.
Tepat ketika
motor akan bergerak, sebuah mobil melintas. Ada kain panjang diikatkan di
bagian depan, tanda bahwa mobil ini berisi rombongan pengantin atau hajatan.
Langsung saya mengekor. Rombongan kecil yang terdiri dari dua mobil dan dua motor melewati jalan komplek yang berbatu.
Tak lama kami
tiba di rumah calon pengantin perempuan. Ada lawang sakepeng di muka tenda.
Lawang sakepeng merupakan pintu yang terbuat dari bambu berhias janur di bagian
atas. Beberapa kembang kertas disematkan di antara daun janur yang menjuntai.
Di bawahnya sebatang
tebu yang ditutupi kain panjang dibentangkan. Tebu ini menjadi penghalang bagi
calon pengantin pria.
Rombongan
pengantin pria mulai bersiap. Beberapa membawa bawaan yang tersimpan di dalam
kotak mika tembus pandang. Calon pengantin pria yang berada di depan barisan
terlihat merapihkan lahung dan kain merah yang melilit pinggulnya. Di apit
kedua orangtuanya, mereka menunggu aba-aba dari keluarga calon pengantin
perempuan.
![]() |
Keluarga calon pengantin perempuan di belakang lawang sakepeng |
Tak lama
terdengar suara gong ditabuh. Suaranya yang keras menjadi tanda bahwa keluarga
calon pengantin perempuan sudah siap. Perlahan-lahan calon mempelai pria dan
keluarganya berjalan menuju lawang sakepeng.
Wajah calon
pengantin pria terlihat tegang. Matanya menatap tajam ke depan. Bibirnya
terkatup rapat. Dia bersiap menghadapi tantangan untuk menemui kekasih hatinya.
Salam pembuka di
ucapkan keluarga calon pengantin perempuan. Disambut oleh keluarga calon
pengantin pria yang mengutarakan maksud kedatangannya.
Dengan gembira
keluarga calon pengantin perempuan menerima, namun calon pengantin pria harus
membuktikan kesungguhan niat dan hatinya dengan membuka lawang sakepeng sesuai
tradisi adat dayak ngaju.
Dengan tegas sang
calon pengantin pria menjawab bahwa ia siap membuka lawang sakepeng. Senyum
terkembang dari wajah semua yang ada di sana. Prosesi membuka lawang sakepeng
akan dilakukan.
Calon pengantin
pria beserta kedua orangtua, dan orangtua calon pengantin perempuan serta
seorang pemantir, pemimpin acara adat dayak ngaju, berdiri mendekat ke lawang
sakepeng. Kemudian salah satu tangan dari setiap orang memegang batang bambu
yang terlihat mengilap.
![]() |
Pemberian minyak dan tepung beras sebagai tanda penyambutan. |
Tiba-tiba, salah
satu keluarga calon pengantin perempuan menjulurkan tangan yang memegang botol
minyak. Sedikit minyak goreng ditumpahkan ke atas kepala calon pengantin pria
dan kedua orangtuanya.
Sekejap kemudian,
wajah mereka ditoreh dengan tepung beras. Taburan tepung ini tak boleh dihapus.
Tradisi pemberian minyak dan tepung beras ini dalam adat dayak ngaju menandakan
penerimaan dan sukacita dari keluarga calon pengantin perempuan.
Meski lawang
sakepeng ukurannya hanya 1,5 meter, namun perlu upaya untuk membukanya. Prosesinya
dimulai dengan membuka kain penutup batang tebu.
![]() |
Melipat kain penutup tebu di lawang sakepeng |
Dipandu pemantir,
kedua orangtua calon pengantin pria melipat kain dari ujung yang berlawanan menuju
ke tengah. Setelah itu barulah kain di angkat dan disimpan oleh keluarga calon
pengantin perempuan. Tebu berwarna ungu terpampang di depan mata.
Batang tanaman pembuat
gula itu terlihat mengilap karena dilumuri minyak goreng. Kembali pemantir
menanyakan kesiapan dan kesungguhan calon pengantin pria untuk menemui calon
pengantin perempuan.
Dengan sedikit
bergetar calon pengantin pria menjawab kesungguhan hatinya. Dia juga harus
membuktikan kesungguhannya dengan memutus tebu.
![]() |
Mengigit untuk memutus tebu |
Tanpa aba-aba,
calon pengantin pria langsung memegang batang tebu dan mengigitnya. Semua
terkejut melihat reaksinya namun tersenyum gembira.
Sedikit demi
sedikit batang tebu itu terkoyak. Tidak mudah memutusnya dengan cara seperti
itu, namun harus dilakukan.
Calon pengantin
pria seperti tak mau berhenti. Tekadnya kuat. Namun tiba-tiba, selembar daun
kelapa kecil ditaruh di atas bekas gigitan. Mau tak mau prosesi memutus tebu terhenti.
Semua kaget. Apa
yang terjadi?
Rupanya salah
satu keluarga calon pengantin perempuan kembali menanyakan sesuatu kepada calon
pengantin pria. Ia menanyakan persyaratan yang dibawa berupa air dan kembang
pinang. Keluarga calon pengantin pria menjawab bahwa persyaratan itu telah
mereka bawa. Sambil tersenyum puas, batang daun janur ditarik. Calon pengantin
pria kembali melanjutkan mengigit tebu hingga putus.
Ketika batang
tebu itu putus, pemantir meminta kedua orangtua calon pengantin pria
menyisihkannya ke kanan dan kiri lawang sakepeng.
![]() |
Berhasil melewati lawang sakepeng |
Sebelum
menyilakan masuk, pemantir menjelaskan arti yang terkandung dalam tradisi
membuka lawang sakepeng dayak ngaju, terutama memutus tebu memiliki arti bahwa
kehidupan itu keras seperti tebu namun jika terus berusaha mencari jalan
keluarnya maka kehidupan akan terasa manis.
Mendengar
penjelasan tersebut saya menyadari bahwa dalam setiap ritual adat yang
diwariskan oleh nenek moyang memiliki arti dan makna yang dalam. Bahwa
kehidupan memang memiliki banyak cerita dan warna, ketika berada di cerita menantang
jangan berhenti berusaha agar bisa meraih manisnya perjuangan. Sebuah petuah yang
akan diingat oleh calon pengantin pria dalam menjalani kehidupan barunya.
Alhamdulillah
BalasHapus