pada tanggal
perjalanan. travelling
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ayunan baayun maulid |
Dalam sebuah perayaan selalu ada hiasan yang akan menyemarakkan suasana. Begitu juga dengan upacara Baayun Maulid, menggunakan 11 jenis janur sebagai penyemarak sekaligus simbol nan kaya makna.
Setiap kali bulan Maulid datang, saya selalu menantikan upacara Baayun Maulid. Entah kenapa upacara daur hidup ini begitu menarik perhatian. Mungkin karena banyak sekali hal-hal yang dapat dilihat dan dipelajari.
Paling nyata tentu saja keberadaan ayunan-ayunan yang dipasang khusus saat upacara. Ayunan yang terbuat dari tiga helai kain tapih panjang atau kain panjang, kakamban atau selendang, serta berbagai hiasan yang digantungkan pada ayunan.
Dari sekian banyak hiasan, janur tentu paling terlihat jelas. Janur tersebut disematkan di tali ayunan serta ada yang melingkari kayu penyangga ayunan. Saya sungguh tertarik untuk mencari tahu seperti apa cara pembuatannya. Rasa ingin tahu ini semakin kuat karena pembuat janur tradisi di Kota Banjarbaru, begitu saya menyebutnya, tidak banyak. Hanya satu-dua orang saja.
Pembacaan doa |
Sebelum memulai petualangan melihat dan berbincang dengan pembuat janur, akan jauh lebih menyenangkan jika saya bercerita sedikit mengenai upacara Baayun Maulid. Maayun Anak di Banua Halat Upacara Baayun Maulid atau Maayun Anak diperkirakan berasal dari Kabupaten Tapin. Tepatnya di Masjid Keramat Banua Halat yang berada di Rantau.
Keadaan sehari-hari masjid kuno yang tenang, berubah menjadi ramai pada 12 Rabiul Awal, waktu dilaksanakannya upacara Baayun Maulid. Saat itu masyarakat berkumpul untuk sama-sama merayakan dan mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengenang kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Tidak diketahui kapan pertama kali masyarakat mengadakan Upacara Baayun Maulid, namun adat tradisi tersebut tetap dilaksanakan dan dilakukan secara rutin hingga saat ini.
Semula, pelaku atau peserta upacara daur ini adalah anak-anak para keturunan warga Banua Halat, namun kini tidak sedikit orang tua yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Upacara Baayun Maulid tidak hanya diadakan di Masjid Keramat Banua Halat. Dari pengalaman saya, kegiatan serupa juga diadakan di Masjid Sultan Suriansyah dan Museum Lambung Mangkurat Kota Banjarbaru.
Waktu pelaksanaan upacara Baayun Maulid di Museum biasanya dilakukan setelah tanggal 12 Rabiul Awal. Jumlah peserta pun tidak sebanyak di Masjid Keramat Banua Halat dan Masjid Sultan Suriansyah.
Salah satu peserta baayun maulid |
Kegiatan rutin tahunan ini sempat terhenti pelaksanaannya pada 2020, tepatnya saat pandemic berlangsung. Bersyukur tahun ini Museum Lambung Mangkurat kembali mengadakan Upacara Baayun Maulid dengan membatasi jumlah peserta. Meski jumlah peserta tidak banyak, namun perlengkapan untuk Baayun Maulid seperti ayunan, janur, kue, dan piduduk tetap tersedia.
Inilah kesempatan saya untuk melihat proses pembuatan janur yang menjadi salah satu pelengkap upacara. Saat ini pembuat janur tradisi sudah sangat jarang. Hanya ada satu keluarga yang membuat janur tersebut. Tempatnya di Kecamatan Cempaka.
11 Janur Tradisi
Berbekal ancer-ancer rumah Acil Rahma, pembuat janur, saya mulai menyusuri jalan utama di Kecamatan Cempaka. Meski kerap wara-wiri di sini, perkara mencari alamat tidak mudah.
Apalagi petunjuk yang diberikan hanyalah rumah panggung, letaknya setelah jembatan, dekat Masjid Jami, dan sebelum warung 41. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya ketemu juga rumah panggung bercat biru. Inilah rumah Acil Rahma.
Membuat janur untuk baayun maulid |
Semula agak ragu sebab dari tepi jalan seperti tidak ada kegiatan, namun ketika melihat lebih jelas dari pintu yang terbuka, terlihat pelepah daun nipah bertebaran di dalam rumah.
Seorang perempuan terlihat menghentikan kegiatannya menganyam daun nipah. Sebagai tamu, saya menjelaskan maksud kedatangan untuk melihat proses pembuatan janur yang akan dipakai di upacara Baayun Maulid.
Perbincangan pun mengalir dengan santai. Sambil tetap menganyam janur, perempuan yang aktif di kawasan tempat tinggalnya ini bercerita bahwa kepandaiannya menganyam janur di peroleh setelah mengikuti pelatihan di Museum Lambung Mangkurat beberapa tahun lalu.
Sejak itu ia memutuskan untuk menjaga warisan budaya agar tetap terjaga. Khusus untuk upacara Baayun Maulid, ada 11 jenis janur yang dibuat. Janur-janur ini dibuat sejak 3 hari sebelum pelaksanaan.
Kesebelas janur itu adalah:
Pemakaian daun nipah membuat janur tetap kekar meski warnanya tak lagi sama seperti daun nipah yang baru tiba. Setelah ayunan selesai dipasang, kini saatnya menghias ayunan dengan 11 jenis janur. Kecuali janur gelang-gelang yang dipasang sepanjang kayu penahan ayunan, janur lain diikatkan di kanan dan kiri tali ayunan.
Wuah, ayunannya jadi terlihat sangat menarik. Kesan perayaan semakin kental. Namun demikian syarat lain masih perlu dipasang di ayunan. Wadai manis seperti cucur yang melambangkan kejujuran serta kue cincin perlambang kehidupan yang berputar, dikemas dalam plastik lalu digantung di ayunan.
Begitu juga dengan sebuah pisang maulid. Sebagai penutup, bunga-bunga pun ditaruh di dalam janur tangga pangeran. Kini, ayunan sudah siap untuk digunakan oleh para peserta yang akan mengikuti Upacara Baayun Maulid.
MashaAllah. Luar biasa memang budaya tanah air itu ya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana acara Baayun Maulid dan perlengkapan janur yang dibutuhkan digunakan sebagai bagian dari prosesi acara ini. Indah, unik dan berkarakter. Satu budaya dan kearifan lokal milik suku Banjar yang wajib kita sebarkan sebagai salah satu jalan mempertahankan dan melestarikan budaya itu sendiri.
BalasHapus