pada tanggal
perjalanan. travelling
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pernahkah teman-teman bertanya berapa jumlah pengguna internet di Indonesia? saya pernah menanyakannya dengan berbagai alasan. Dari data yang dibuat Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2017, menyebutkan 143,26 juta jiwa dari 252 juta penduduk Indonesia aktif berselancar di dunia maya.
Setiap tahun jumlahnya terus bertambah secara signifikan. Yang mengejutkan, peringkat teratas pengguna internet berusia 13-18 tahun dengan nilai persentase mencapai 75,50% dari total penduduk Indonesia.
Melihat nilainya yang aduhai, membuat saya memahami mengapa belakangan ini kerap terjadi perundungan terhadap anak-anak. Kasus terbaru dialami oleh seorang anak SMP yang mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari teman-temannya.
Kasus ini bukanlah pertama kali terjadi, namun sudah menjadi yang kesekian kali dengan berbagai alasan. Hal ini tentu sangat menyedihkan. Apakah sudah sedemikian besarnya hasrat seseorang untuk dikenal di dunia maya sehingga berperilaku tidak baik.
Keadaan ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pembelajaran dan pemahaman tentang literasi harus ditumbuhkan. Mengapa literasi? Karena dengan membaca setidaknya hal-hal negatif bisa diminimalkan.
Masalah inilah yang dikupas pada webinar berjudul Mengisi Kemerdekaan Dengan Postingan Positif. Diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, jumat 14 Agustus 2020.
Berkaitan dengan literasi, saya jadi ingat pada pernyataan seorang teman yang mengatakan bahwa anaknya bercita-cita menjadi seorang youtuber. Oh ya, literasi itu tidak hanya membaca, visual pun termasuk dalam kegiatan literasi. Lantas apakah menjadi seorang dokter atau insinyur tidak lagi menarik perhatian anak-anak?
Perihal cita-cita, memang bisa berubah seiring bertambahnya usia anak. Namun demikian apa yang dilontarkan sang anak bisa dijadikan renungan betapa kuatnya pengaruh internet pada anak.
Keinginan untuk dilihat dan diakui oleh orang lain mendorong seseorang, bahkan seorang anak, untuk membuat video dan mengunggahnya ke media sosial.
Amykamila, seorang script writer dan content creator mengatakan bahwa menjadi viral dengan keren itu berbeda. Viral merupakan bonus dari sebuah aktivitas yang melibatkan kreatifitas. Sedangkan keren itu harus karena mendorong seseorang untuk kreatif menciptakan konten. Tentunya konten yang positif dan bermakna ya.
Sudah terlihat perbedaannya ya. Sederhananya, viral belum tentu keren. Tapi keren bisa jadi viral. Contohnya, seseorang viral setelah mengunggah video prank sampah untuk orang lain. Sedangkan konten yang keren seperti komik stip si Nopal.
Susah ya membuat konten yang oke?
“Good content are inspiring audience” ujar Amy
Saya setuju dengan pernyataan mbak Amy, sebuah konten yang bagus akan menginspirasi banyak orang. Memang prosesnya tidak mudah, namun usaha tidak akan menghianati hasil.
Untuk membuat suatu konten yang menarik dapat dimulai dari 4 pertanyaan berikut.
Seperti halnya buku, target audien harus sudah ditetapkan sebelum konten dibuat. Jangan sampai audien yang dituju adalah para Ibu muda namun konten yang dibuat ternyata lebih pas untuk remaja putri.
Dengan mengetahui siapa target audien, akan memudahkan dalam menentukan warna, gaya bahasa, desain, hingga properti yang digunakan.
Nah kembali ke pertanyaan di atas, mau viral atau bermanfaat? Tentu saja sebaiknya konten yang dibuat bermanfaat untuk orang lain. Umumnya jika seseorang merasa mendapat manfaat setelah membaca atau melihat suatu unggahan, dia akan teringat akan konten tersebut.
Bukan tidak mungkin pembaca atau audien akan dengan hati menyebarkan dan merekomendasikannya ke orang lain. Jadi, tanpa perlu diminta unggahan tersebut sudah menyebar dengan otomatis. Artinya semakin banyak orang yang mendapat manfaat dari unggahan tersebut. Ini baru KEREN.
Berkaitan erat dengan materi yang disampaikan pembicara pertama, Mbak Ani Berta mengungkapkan bahwa secara tidak sadar kita tengah berada di sebuah arena peperangan.
Bentuk peperangan yang terjadi berbeda sekali dengan peperangan masa lalu. Tidak ada senjata dan asap mesiu, semua digantikan oleh kekuatan kata dan ucapan. Ya, arena perang itu berada di media sosial.
Entah sudah berapa banyak kabar tak jelas berseliweran di media sosial, termasuk WhatsApp. Sejatinya, setiap kali mendapat berita yang meragukan jangan serta merta menyebarkannya. Jika berita yang disampaikan hanya terlihat judul beritanya, jangan malas membaca berita hingga tuntas. Sebab kerap kali judul dan isi berita berbeda.
Seandainya berita yang diterima berisi sedikit informasi, segera cari tahu kebenarannya dengan mengecek di media informasi terpercaya. Bukankah untuk membaca koran atau informasi lain kini bisa dilakukan dengan mudah. Cukup mencarinya di google lalu membaca keseluruhan berita yang muncul.
Sebagai seorang pembuat konten yang telah malang melintang, Mbak Ani menyampaikan bahwa untuk membuat sebuah konten yang berkarakter perlu memerhatikan 4 hal, yaitu:
Sebagai penutup acara, Kang Maman Suherman kembali mengingatkan akan kondisi darurat literasi di Indonesia. Literasi Indonesia menduduki peringkat bawah dibandingkan negara lain. Setiap orang di Finlandia, Norwegia, dan Denmark mampu membaca 40-50 buku per tahun. Sedangkan di Indonesia, setiap orang membaca 3 buku per tahunnya.
Akibat minimnya minat baca membuat masyarakat mudah membagikan informasi tanpa membacanya secara tuntas.
Menurut Kang Maman, ada cara sederhana untuk menahan laju jari menekan tanda share, yaitu dengan menerapkan rumus 5W 1H. Sebenarnya rumus ini telah berlaku di dunia jurnalistik dan bisa diadaptasi oleh masyarakat.
Rincian dari 5W 1H adalah:
Setelah rumusan itu terjawab, tanyakan kepada diri sendiri apakah berita tersebut memenuhi unsur 3B, yaitu benar, baik, dan bermanfaat.
Kok, kayaknya repot sekali kalau harus mengingat tentang 5W 1H dan 3B di atas ya. Tenang, Kang Maman telah menyederhanakannya menjadi 5R, yakni:
Dengan memperhatikan rumusan 5R, akan membantu setiap orang yang akan membuat konten. Bertambahnya jumlah konten positif bukan tidak mungkin menyebarkan nilai-nilai kebaikan pada masyarakat.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.