Hari ini si kecil
gembira sekali. Ia bersama teman-temannya sekelasnya baru saja melihat pameran
keterampilan antar sekolah di sebuah pusat perbelanjaan. Berbagai kerajinan
buah karya anak-anak sekolah dipamerkan pada beberapa stan. Pesertanya beragam,
ada sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah kejuruan.
Rombongan mereka
terpecah dalam beberapa kelompok kecil dan sibuk melihat-lihat. Nggak lupa dong
mampir di stan sekolah tercinta. Ketika melewati sebuah stan milik sebuah
sekolah kejuruan, si kecil kepincut sama bros yang terbuat dari kain
sasirangan. Bentuknya sedehana sih, namun pembuatannya rapi. Selain itu
harganya pun terjangkau, Rp5.000,00 dapat 3 buah bros.
 |
uang receh yang kerap dicari |
Langsung saja si kecil
mengeluarkan uang dari sakunya. Dibayarnya bros dengan senyum senang.
Disimpannya baik-baik dalam sakunya. Lalu mereka pun berlalu dari depan stan. Sebenarnya
wali kelas sudah mengingatkan untuk kembali ke sekolah. Mereka diijinkan
melihat pameran selama satu jam saja, tapi….namanya anak-anak, ya ada saja yang
menarik buat tetap berada di keramaian.
Rombongan ini kok malah
milih berkeliling membeli minuman di gerai makanan ternama. Katanya sih dengan
uang Rp5.000,00 bisa beli burger atau minuman. Ternyata mereka lupa sama yang
namanya pajak restoran, jadi deh harga makanan yang dibeli dikenai pajak. Harga
yang harus dibayar ya Rp6.500,00.
Si kecil ikutan beli
minuman di sini plus sebuah muffin di toko roti. Semuanya langsung disantap
dengan gembira. Barulah mereka semua kembali ke sekolah. Saya dibagi hehehe,
kan saya nggak ada di lokasi, lagi duduk manis di rumah.
Kisah petualangan hari
itu, baru saya ketahui sore hari setelah pulang sekolah. Si kecil dengan bangga
bercerita tentang barang dan makanannya yang dibelinya. Ia sama sekali tidak
meminta uang pada saya.
Rupanya, begitu ibu
guru memberitahu soal pameran itu, ia sengaja mengumpulkan uang jajannya. Biasanya
sisa uang jajan dimasukkan ke dalam celengan sederhananya. Tetapi dalam rangka
menyambut pameran, uang itu sengaja disimpan di tempat pensil.
Wah, sebagai ibu, saya
merasa gembira campur senang. Lho, anak jajan kok senang? heehhehe, bukan soal
jajannya ya yang membuat saya gembira, tapi kemampuan si kecil untuk
memperhitungan pengeluarannya. Alias mengatur keuangannya sendiri.
 |
celengan buatan sendiri |
Perkara menabung, saya
sudah membiasakan anak-anak menabung sejak kecil. Bermula dari uang lebaran
yang mereka peroleh dari keluarga. Tanpa diminta, amplop-amplop berisi uang
akan dikumpulkan ke saya. Masing-masing akan saya bedakan, lalu disimpan. Mereka
bisa menggunakan uang ini untuk keperluan mereka. Namun biasanya mereka justru
melupakannya. Jadi, amplop-amplop cantik ini akan berdiam diri di dalam tas
saya.
Waktu itu terlintas
untuk membuka tabungan di bank. Tapi agak repot juga sebab tabungan tetap diatasnamakan
saya. Pinginnya nama yang tertera di buku tabungan ya nama mereka. Biar bangga
dan merasa memiliki gitu lho. Oh ya, kala itu belum model tuh bank membuat
tabungan untuk anak.
Entah apakah keinginan
saya itu akhirnya terdengar oleh pihak bank, atau memang ada yang punya ide
mengembangkan jenis tabungan, sebuah bank mulai membuka tabungan untuk anak.
Kalau diingat-ingat sekitar 7 tahun lalu. Udah lama juga ya. Kebetulan lagi,
banknya dekat rumah. Senang banget, untung nggak sampai loncat-loncat sih. Langsung
saja cari informasi, ternyata benar, mereka mengeluarkan produk baru berupa
tabungan untuk anak mandiri. Maksudnya, orangtua tidak perlu buka tabungan di
bank tersebut.
Besoknya, bersama
anak-anak langsung mendatangi bank. Isi formulir, kasih data pelengkap untuk di
fotokopi. Pergi ke teller buat menyetorkan uang. Jadi deh, tabungan atas nama
mereka sendiri. Ya ampun, gembira banget anak-anak waktu melihat nama mereka di
buku tabungan. Sejak itu urusan menyimpan uang menjadi mudah. Setiap dapat
uang, otomatis mereka mengajak saya ke bank untuk menabung.
Bukan main bahagianya
saya sebab keinginan saya untuk mengajak mereka menabung berhasil. Kenapa sih,
kok saya ngotot banget menularkan virus menabung sama anak-anak. Waktu itu sih
belum kepikiran apa-apa, hanya berharap mereka tidak menjadi anak yang boros. Namun
belakangan saya sadar, banyak sekali manfaat yang diperoleh berkat menabung. Apa
saja sih manfaatnya, ini dia jawabannya.
- Anak-anak berlatih mengatur keuangannya,
Dengan
terbiasa menyisihkan uang jajannya (sejak diberi uang jajan) mereka jadi bisa
mengatur keuangannya. Apakah uang tersebut nantinya akan dibelikan suatu
barang, atau dimasukkan ke dalam tabungan pada akhir bulan. Saya tidak pernah
mematok jumlah yang harus disisihkan, tetapi harus selalu ada sisa uang jajan. Dengan
demikian mereka secara tidak langsung diajak untuk memilih apa yang akan dibeli
dari uang jajannya. Secara tidak langsung mereka akan membeli apa yang
benar-benar diinginkan. Harganya sesuai tidak dengan uang jajan mereka. Kalau
harganya mahal, otomatis harus menabung dulu baru bisa beli. Kalau jajannya
murah, mereka bisa membeli satu atau beberapa, sesuai dengan jumlah uang jajan
yang dimilikinya.
- Latihan merencanakan keuangan,
Nggak
cuma orangtua yang harus tahu soal perencanaan keuangan, anak-anak juga perlu
berkenalan dengan hal ini. Anak-anak pasti menginginkan suatu barang atau makanan
atau minuman atau apalah. Bisa saja kita membelikannya, tetapi tunggu dulu,
sebaiknya ajak anak menyisihkan uang jajannya. Cara ini membuat mereka belajar
menyesuaikan dan memperhitungkan kemampuan keuangan mereka. Kalau barang yang
diinginkan mahal, berarti mereka membutuhkan waktu lama untuk menabung. Sebaliknya
akan lebih cepat jika harga barangnya murah.
- Anak-anak belajar disiplin,
Dengan
meminta mereka setiap hari menyisihkan uang jajan, secara tidak langsung
mengajarkan mereka disiplin. Sebaiknya sih orangtua menentukan besaran uang
yang harus disimpan, tapi saya tidak menerapkannya (jangan ditiru ya). Modal
saya hanya meminta mereka selalu menyisihkan uang jajannya. Terkadang hanya
Rp1.000,00 setiap hari, tetapi seringkali uang jajannya utuh tidak berkurang. Dengan
menentukan jumlah uang yang harus ditabung, anak akan terbiasa menyisihkan uang
jajannya. Andaikan anak gagal menyisihkan uang jajannya, orangtua bisa
menerapkan hukuman sederhana sebagai pengingat, misalnya nggak boleh main game
saat libur. Jika ada hukuman, tentu ada penghargaan dong, bentuknya bisa
macam-macam. Entah stiker lucu yang ditempel di kelender, atau bonus tertentu
lainnya.
- Belajar hidup hemat,
Yup,
dengan menabung secara tidak langsung anak-anak belajar untuk hidup hemat. Tidak
menghamburkan atau menghabiskan uang yang dimilikinya. Hanya membeli barang
yang sesuai kemampuan dan benar-benar diinginkan. Dengan menabung mereka diberi
kesadaran perihal pentingnya persiapan terhadap hal-hal yang tidak terduga yang
dapat terjadi kapan saja. Menurut saya hal ini penting sekali sebab kita tidak
tahu apa yang akan terjadi besok.
- Menghargai uang,
Saya
selalu mengumpulkan uang receh yang diperoleh dari toko. Begitu juga dengan
anak-anak. Meski nilainya kecil, untuk mendapatkannya perlu usaha besar. Recehan
ini kemudian ditukarkan pada toko lain untuk kembalian. Nah uang kertas yang
diperoleh baru disimpan ditabungan. Sederhana ya, tetapi anak-anak belajar
memahami bahwa untuk mendapatkan uang perlu usaha. Untuk memperoleh selembar
uang kertas Rp2.000,00 mereka harus mengumpulkan beberapa buah uang receh. Atau
cara lain dengan mengajarkan berjualan. Usaha yang dilakukan secara tidak
langsung mengajarkan anak-anak bahwa tidak mudah mendapatkan uang.
- Melatih kesabaran anak-anak,
Ya,
menabung itu melatih kesabaran. Anak-anak belajar untuk menahan keinginannya
akan suatu barang. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli barang
idamannya. Percayalah, barang yang dibeli dengan menggunakan uang mereka
sendiri akan lebih menyenangkan dibanding kita yang membelikannya. Mereka akan
lebih menghargai dan merawatnya dengan baik. Kita pasti akan bangga jika anak
berkata, sepatu ini aku beli sendiri lho, pada teman-temannya.
- Mengenalkan pembukuan sederhana,
Saya
kerap membelikan buku kecil pada anak-anak. Gunanya untuk mencatat uang yang mereka miliki. Atau,
kalau mereka ingin membeli sesuatu, mereka akan mencatat harganya di buku
tersebut. Setiap hari uang yang disisihkan akan dicatat. Jadi mereka tahu
berapa sisa uang yang dibutuhkan untuk membeli barang tersebut. Nah, kegiatan
catat mencatat ini secara tidak langsung mengajarkan mereka soal pembukuan
sederhana. Nggak usah dikasih debet kredit, cukup jumlah uang yang diterima
sama uang yang dipakai jajan pada hari itu. Atau, harga barang yang diinginkan
dengan jumlah uang yang dikumpulkan setiap hari. Dengan demikian anak jadi
lebih mudah menghitung jumlah tabungan yang dimilikinya.
Bener juga ya mbak.. anak-anak memang harus diajarkan mengelola uang sejak kecil. Biar gedenya pinter ngatur uang dan gak boros. Bedanya cukup jauh loh.. sepupu saya sejak kecil diajarkan untuk mengelola uang saku sekolahnya dari kecil. Sementara saya gak. Begitu dewasa kami berbeda jauh soal mengatur keuangan.. 🤣🤣🤣🤣
BalasHapuswah saya baru tahu mbak kalau ternyata ada perbedaan ya. saya mengajari anak-anak mengatur keuangan karena naluri saja. selain itu biar mereka menghargai uang dan nggak boros.
Hapuskeren ini tips2nya untuk mendidik anak secara finansial sejak dini
BalasHapusterima kasih mbak riawani. semoga tipsnya bisa bermanfaat untuk banyak orang.
Hapus